Course Outline Studi Keislaman II (PAI)

COURSE OUTLINE MATA KULIAH STUDI KEISLAMAN II

 

JURUSAN                 : TARBIYAH

PRODI                       : PAI

KELAS                      : F

SEMESTER              : V

DOSEN                      : M. GUFRON, M. Ag

CONTACT PERSON: 081542357208

ALAMAT BLOG     : staff.stainsalatiga (gufron makruf)

ALAMAT EMAIL   : www. gufrondany@yahoo.com

ALAMAT RUMAH  : Panti Asuhan Darul Hadlanah NU Salatiga

Jln. Fatmawati KM 2 Blotongan

 

DESKRIPSI

            Mahmud Syalthut dalam karyanya al-Islam Aqidah wa Syari’ah mengungkapkan, bahwa agama Islam secara garis besar mencakup tiga aspek, yakni: Aspek Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq, atau dalam konsepsi Islam ada Iman, Islam, Ihsan yang bisa diuraikan dalam rincian pembahasannya masing-masing, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan orang beragama.

Dalam wacana studi agama kontemporer, fenomena keberislaman seseorang dapat dilihat dari berbagai sudut pendekatan. Ia tidak lagi hanya dapat dilihat dari sudut dan semata-mata terkait normativitas ajaran wahyu-meskipun fenomena ini sampai kapan pun adalah ciri khas dari pada agama-agama yang ada- tetapi ia juga dapat dilihat dari sudut dan terkait erat dengan historisitas pemahaman dan interpretasi orang-perorang atau kelompok-perkelompok terhadap norma-norma ajaran agama yang dipeluknya, serta model-model amalan dan praktek-praktek ajaran agama yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya, normativitas ajaran wahyu dibangun, diramu, dibakukan dan ditelaah lewat pendekatan doktrinal teologis, sedangkan historisitas keberislaman seseorang ditelaah lewat berbagai sudut pendekatan keilmuan sosial-keagamaan yang bersifat multi dan inter disipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis, kultural maupun antropologis.

Sebagai agama yang sempurna dan universal, maka Islam secara konseptual normatif, tidak pernah mengalami perubahan esensial sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Namun di saat yang bersamaan pula, ketika Islam diaktualisasikan dalam peradaban, maka persoalannya menjadi lain. Artinya, Islam sebagai peradaban umat manusia, atau kalau menurut istilah Jalaluddin Rakhmat disebut “Islam Aktual”, dan menurut Mohammad Arkoun disebut “Islam Historis”, tampaknya memiliki resonansi dan dinamikanya tersendiri. Dalam kaitannya dengan apresiasi, respons dan aktualisasi umat Islam mengenai agama Islam itu, mengakibatkan wajah Islam secara aktual, dalam konteks Indonesia ada Islam Kiri, Islam Tengah dan Islam Kanan.

Untuk mengurangi resistensi antar kelompok dalam agama Islam, maka perlu dirumuskan tentang konsep Islam yang lebih masif dan universal. Dalam konteks ini maka mata kuliah keislaman II ini, akan menitik beratkan pengertian Islam dari aspek ritualnya, dilihat dari prespektif normatifitasnya sekaligus historisitasnya dalam konteks reaktualisasi nilai-nilai ajaran keislaman di zaman modern sekarang ini.

           

Continue reading

Cours outline mata kuliah Ahlaq Tasawuf(PS S1)

COURSE OUTLINE

MATA KULIAH AKHLAQ/TASAWUF

 

Jurusan                      : Syari’ah

Prodi                           : PS-S1

Kelas                           : A

Dosen                          : M. Gufron, M. Ag

Contact Person          : 081542357208

Alamat Blog               : staff.stainsalatiga (gufron ma’ruf)

Alamat Email             : www.gufron_makruf@yahoo.co.id

Alamat Rumah          : Panti Asuhan Darul Hadlanah NU

Jln. Fatmawati KM 5 Blotongan Salatiga

 

DESKRIPSI

            Tasawuf atau sufisme adalah satu dari sekian model pemikiran (mode of thought) dalam Islam. Sebagai pemikiran yang melandaskan pada diri pada cara kerja pengetahuan irfani (gnostik), sebuah epistem pengetahuan yang cara kerjanya berdasarkan sikap dan terbersit dalam jiwa. Mekanisme penalaran dalam epistem irfani berangkat dari dimensi esoteris (batini) menuju eksoteris (dzahir) atau makna menuju batin.

Ada persepsi yang mengakar, ketika mendengar istilah tasawuf, bahwa tasawuf adalah suatu ajaran yang memiliki kecenderungan anti intelektualme, irasional, identik dengan faham Asy’ariah yang fatalis, mengisolasikan diri dari keramaian dunia, termasuk di dalamnya adalah kerja dan pangkat atau jabatan, bahkan dalam banyak hal ia sebagai “biang” terjadinya kemunduran peradaban Islam.

Pada sisi yang lain, ada yang berpendapat, tasawuf adalah “hatinya Islam”. Bahkan dewasa ini di masyarakat Indonesia tumbuh subur majlis-majlis pengajian tasawuf, karena banyak dari mereka yang merasa terbelenggu berbagai kecenderungan materialisme dan nihilisme modern. Mereka membutuhkan sesuatu yang bisa menentramkan jiwanya serta memulihkan kepercayaannya yang nyaris punah karena dorongan kehidupan materialisme dalam berbagai konflik ideologis. Dalam hal ini, kiranya tasawuf diharapkan mampu mengembalikan makna riil maupun hakikat kemanusiaannya.

Untuk itulah pada mata kuliah Akhlaq Tasawuf kali ini mencoba mengkonvergensikan dua pandangan yang kontradiktif tersebut untuk dicarikan paradigma baru, dengan formatnya yang menepis anggapan tasawuf yang minor, sekaligus menguatkan pendapat yang optimis terhadap tasawuf.

Pada era modern sekarang ini mestinya tasawuf punya peran dan tanggung jawab yang lebih dalam kehidupan sosial masyarakat secara kongkrit. Tanggung jawab tersebut antara lain bersifat spiritual, psikologis, politik, moral, intelektual, ekonomi, dsb. Sebagai bentuk tangung jawab sepiritual, tasawuf hendaknya bisa memberikan kesejukan kepada masyarakat, terutama pada masa kritis. Dalam aspek psikologis, tasawuf hendaknya memberikan solusi bagi problem penyakit modern seperti stres, depresi dsb. Dalam aspek politik, tasawuf dituntut untuk memecahkan ketidakadilan dan pemihakan terhadap kaum dhu’afa’.

Demikian pula dalam bidang ekonomi hendaknya bisa membantu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Dan dalam bidang moral, tasawuf hendaknya bisa menaggulangi kenakalan remaja dan kaum tua yang sangat menyedihkan, dan dalam aspek intelektual hendaknya tasawuf melakukan renungan yang bersifat intuitif, sebagai alternatif pemecahan masalah, di samping Rasionalisme, Empirisme dan Liberalisme.

Continue reading

Teologi Antroposentris Hassan Hanafi

PARADIGMA BARU TEOLOGI ISLAM

(Studi Atas Pemikiran Teologi Antroposentris Hassan Hanafi)

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Setidaknya masa akhir masa al-Khulafa’ al-Rasyidin,usaha dan semangat pembebasan masyarakat dari ketertindasan, diskriminasi dan ketidak adilan sosial, tampak mulai memudar dari ritme kehidupan umat Islam. Hal ini terjadi karena selama pemerintahan empat khalifah tersebut, umat Islam disibukkan oleh perjuangan untuk menegakkan Islam dan menyebarluaskannya.[1] Akhirnya pun, pemikiran Islam karena persentuhannya dengan pemikiran Yunani, melahirkan aliran-aliran teologi disamping yang lebih disebabkan oleh faktor-faktor politik, juga lebih mengemukakan tema-tema filosofis,[2] sehingga pemikiran dan perdebatan teologi yang muncul dan berkembang waktu itu, bersifat defensif apologetik[3]. Struktur logika teologi lebih berbentuk dialektika Hegelian, bukan dialektika Marxian[4], yang mempunyai orientasi menentang ketidak adilan dan penindasan serta pemihakan kepada rakyat miskin.

Teologi yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurnianya, bukan dialektika konsep tetang watak sosial dan sejarah, disamping juga bahwa Ilmu kalam sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Sedemikian sehingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia, disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo dari pada sebagai pembebas dan penggerak manusia ke arah kemandirian dan kesadaran.[5] Berkenaan dengan hal ini, melihat konstruksi logika teologi yang seperti itu, Hassan Hanafi berpendapat sebagai langkah awal, bahwa teologi yang notabene sebagai konsepsi  inti dalam pandangan Islam, mutlak harus dibenahi.

Sesuai perkembangan zaman, dunia Islam membutuhkan teologi Islam yang bersifat tajriby (empirik), sebagai teologi yang lebih “membumi” dari pada “melangit” seperti selama ini. Dialektika-teologis terus berlanjut sepanjang sejarah peradaban manusia, sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Bagaimanapun, teologi tidak berarti hanya berbicara mengenai iman an-sich. Jika iman masih bersifat “pure matter” atau substantive, maka teologi lebih bersifat metodologik.[6]

Continue reading

Metodologi Studi Islam; Teori Dasar Pendekatan dalam Pengkajian Islam

METODOLOGI STUDI ISLAM;

Teori Dasar Pendekatan Dalam Pengkajian Islam

By : M.Gufron Ma’ruf

 

Prolog

 

Gerakan pembaharuan dalam pemikiran Islam pada abad 21 ini ditandai dengan perubahan paradigma keagamaan yang cukup signifikan. Interpretasi liberal terhadap teks-teks suci keagamaan dan peninjauan kembali terhadap doktrin-doktrin salaf (tradisional) khalaf (pertengahan) dan muta’akhir (modern) merupakan realitas yang dapat kita temukan dalam karya-karya pemikiran Islam kontemporer. Hal tersebut menggambarkan prinsip-prinsip Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Asumsi yang menjadi landasan gagasan liberalisme tersebut adalah bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala situasi, menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik al-Qur’an dan sunnah nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks, gagasan tentang kebenaran agama sebagai sesuatu yang relatif, berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan terpinggirkan.

Dalam diskurus keagamaan kontemporer dijelaskan, bahwa ‘’agama’’ ternyata mempunyai banyak wajah [multifaces] dan bukan lagi seperti orang dahulu memahaminya. Yakni hanya semata-mata terkait dengan persoalan ketuhanan, kepercayaan, kredo, pedoman hidup, ultimate concern dan seterusnya. Tetapi agama juga terkait dengan persoalan-persoalan historis-kultural yang merupakan keniscayaan manusiawi belaka.[1]

Continue reading

Metode Kontemporer Pembacaan al-Qur’an; Model Pemikiran Muhammad Syahrur

METODE KONTEMPORER PEMBACAAN AL-QUR’AN; Model Pemikiran Muhammad Syahrur

By. M. Gufron Ma’ruf

            Bagi masyarakat Muslim Indonesia, sosok Muhammad Syahrur (Shahrour), barangkali belum begitu populer bila dibandingkan dengan pakar-pakar muslim kontemporer lainnya semisal Fazlur Rahmandan Mohamed Arkoen. Di negaranya sendiri, Syiria, Syahrur pada awalnya memang lebih dikenal sebagai dosen tehnik sipil dan geologi di Universitas Damaskus dan direktur biro konsultasi tehnik Dar al-Istisyarat al-Handasiyyah. Popularitas Syahrur di lingkungan keilmuan Islam, diawali dari penerbitan bukunya Al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah. Buku ini adalah fenomenal, sebab di satu sisi, dinyatakan sebagai buku yang paling laris (the best seller book) di Timur Tengah (1990), tapi di sisi lain, dianggap pula sebagai buku yang paling kontroversial. Isu kontroversial yang ditimbulkannya tidak hanya bergema di tingkat individual melainkan juga membawa implikasi di tingkat kenegaraan. Negara-negara semisal Arab Saudi, Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab, melarang secara keras peredaran buku itu. Sebaliknya Sultan Oman (Qaboos) justru memberikan penilaian positif, sampai ia membagi-bagikan buku itu kepada para menterinya dan merekomendasikan mereka untuk membacanya.

Apa yang menarik dari buku itu? Jawabannya secara sederhana adalah tawaran metodologi dan hasil-hasil aplikasinya. Berangkat dari penolakan terhadap keunggulan pengetahuan intuitif, sebagaimana lazimdianut oleh para sufi (ahl al-kasyf dan ahl Allah), Syahrur tergolong sebagai penganut epistemologi materialisme-empiris. Hal ini merupakan implikasi teoritis dari statusnya sebagai seorang saintis yang tipikal keilmuannya mengedepankan sifat-sifat empirik, rasional, ilmiah, dan modern. Kenyataan ini pulalah yang kemudian melandasi formasi metodologinya dalam ”membaca” al-Qur’an. Syahrur percaya bahwa Muslim modern (generasi abad ke-20), karena kemajuan budaya dan ilmu pengetahuannya memiliki perangkat pemahaman metodologis yang lebih baik bila dibandingkan dengan para pendahulunya (generasi abad ke 7) dalam memahami al-Qur’an. Karena itulah kemudian Syahrur akhirnya menetapkan pilihannya untuk mengikuti prosedur ilmu-ilmu linguistik modern (filsafat bahasa) yang secara genealogis diadopsi dari teori linguistik Abu Ali al-Farasi. Dalam teori ini, terdapat sebuah asumsi dasar yang mengatakan bahwa “tidak ada sinonim (muradif) dalam bahasa Arab”. Kata-kata yang selama ini dianggap sinonim harus dikaji kembali.

Dengan perangkat metodologis seperti itu, Syahrur menawarkan sebuah kerangka teoritis baru dalam “membaca al-Qur’an”. Syahrur membedakan antar realitas obyektif (al-haqiqah al-maudhu’iyyah) dan realitas subyektif (al-haqiqah al-dzatiyyah). Realitas obyektif ialah hal-hal yang berada diluar jangkauan kemampuan manusia sehingga harus diterima begitu saja tanpa bisa dibantah ataupun dirubah, sedangkan realitas subyektif adalah hal-hal yang bersifat memberikan alternasi-alternasi. Dalam kaitan ini, Syahrur membedakan antara al-Qur’an dan umm al-Kitab. Al-Qur’an berusaha untuk membedakan yang haq dan batil sedangkan umm al-Kitab berusaha untuk mebedakan antara antara yang halal dan yang haram. Dengan demikian, al-Qur’an bersifat obyektif, sedangkan umm al-Kitab bersifat subyektif. AL-Qur’an dalam pemahaman Syahrur direpresentasikan oleh al-nubuwwah, sementara umm al-Kitab direpresentasikan oleh al-risalah. Konsep al-nubuwwah, dengan demikian, berusaha untuk membedak antara yang haq dan yang batil, sedangkan al-risalah berupaya untuk membedakan antara yang halal dan yang haram, sebab ia hanyalah merupakan norma-norma perilaku yang boleh dikerjakan atau juga yang ditinggalkan. Syahrur, dalam hal ini, sangat dipengaruhi oleh epistemologi pengetahuannya yang realistik empirik; bahwa realitas obyektif dan seluruh tatanannya merupakan realitas yang berada di luar kesadaran dan kemampuan manusia. Matahari adalah realitas, diterima taupun tidak, diketahui ataupun tidak, sehingga dikatakan bahwa realitas matahari adalah sesuatu yang haq. Demikian pula halnya dengan kematian, hari kiamat, dan kebangkitan, dan hal-hal obyektif lainnya. Al-Qur’an juga adalah realitas obyektif yang berada diluar kesadaran manusia. Adapun cara untuk mengetahui realitas obyektif ini menurut Syahrur, adalah dengan mengikuti kaedah-kaedah pembahasan ilmiah obyektif, terutama filsafat, kosmologi, fisika, kimia, biologi, sejarah dan ilmu-ilmu obyektif serta ilmu alam yang lain. Sementara al-risalah, bagi Syahrur, adalah bersifat subyektif, dalam arti bahwa manusia masih berhak dan mampu untuk melakukan pilihan. Umpamanya, perintah agar melakukan shalat, zakat dan haji masih memunculkan kemungkinan untuk memilihnya, bisa diterima atau malah dilanggar. Hal ini tidak bisa dikatakan sebagai suatu yang haq, yang berarti ia bersifat subyektif. Dari sinilah kemudian Syahrur membedakan kedudukan antara Muhammad sebagai seorang Nabi yang membawa konsep nubuwwah dan Muhammad sebagai musyarri’ yang membawa konsep risalah. Bagi Syahrur, kita harus mengikuti Muhammad dalam kaitannya sebagai suri tauladan dalam menetapkan doktrin-doktrin ketuhanan yang sesuai dengan kondisinya ketika itu (sunnah). Sebaliknya, kita tidak harus mengikuti tradisi oral maupun tindakan-tindakannya yang sosiologis yang terangkum dalam “hadis”, sebab Muhammad hanyalah varian sejarah pertama mengenai bagaimana aturan-aturan Tuhan dapat diterapkan dalam masyarakat Arab ketika itu, dan kita tidak harus membuat pilihan yang sama dengan pilihan yang dilakukan leh Muhammad.

Adapun metode yang menurut Syahrur representatif bahkan memperoleh justifikasi langsung dari al-Qur’an untuk “membaca”-nya adalah tartil, yaitu mengambil ayat-ayat yang berkaitan dengan satu topik dan mengurutkan sebagiannya di belakang sebagian yang lain”. Tartil diperlukan sebab banyak topik tertentu di dalam al-Qur’an disebutkan secara berserakan. Agar memperoleh gambaran komprehensif dan alternatif, ayat-ayat yang berserakan itu harus dipertemukan. Prosedur yang dapat digolongkan sebagai kajian semantik ini, oleh Syahrur, didekati secara paradigmatis-sintagmatis. Paradigmatis ialah suatu analisa pencarian dan pemahaman terhadap sebuah konsep (makna) suatu simbol-simbol lain yang mendekati dan yang berlawanan, sedangkan sintagmatis adalah analisa yang bertujuan untuk menetapkan makna yang paling tepat di antara makna-makna yang ada, di mana setiap kata pasti dipengaruhi oleh hubungannya secara linier dengan kata-kata di sekelilingnya. Dalam meramu semantik dengan model analisanya ini Syahrur kerap menggunakan metafora dan analogi yang diambil dari bidang keahlian dasarnya, ilmu teknik dan sains secara umum, terutama sekali adalah penggunaan analsa matematika dan fisika.